Beranda » 2016 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2016

AHOK MENGHINA ISLAM,BENAR ATAU BOHONG

BASUKI TJAHAYA PURNAMA AHOK DITUDUH MENISTA ISLAM ?
BENAR ATAU BOHONG ?

Awal kisah huru hara demo ke alamat Ahok dimulai dari makian kotor yang tidak patut diucapkan oleh seorang Habib Novel Bamukmin alias Habib Novel.
Baca cerita dibawah ini dan nilailah sendiri apakah Ahok menistakan islam atau Ahok mengatakan isi sebenarnya dari kitab suci umat Islam, Quran ?
Kita mulai saja ceritanya dimana Ahok dimaki sebagai orang gila.
Ahok adalah manusia ciptaan Allah, dan Habib Novel juga manusia ciptaan Allah, Jika Ahok dikatakan manusia gila, lalu Novel apa ?, sama dan sebangun khan ?.

fiqhmenjawab.net ~menulis dalam webnya :
Usai sidang di Mahkamah Konstitusi, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tiba-tiba saja diteriaki ‘gila’ oleh Habib Novel Bamukmin alias Habib Novel. Habib Novel bereaksi keras, karena tak terima Ahok yang dianggap telah mempermainkan ayat suci Al-Qur’an. Sebelumnya, setelah menyapa warga di Kepulauan Seribu, Ahok sempat menyebut kalau warga dibohongi dengan menggunakan ayat Al-Maidah untuk tidak memilih dirinya.

Seperti diketahui, ayat dari Surah Al-Maidah yang kerap disebut sebagai dalil menolak ‘pemimpin kafir’ itu ialah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’; sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Inilah bunyi ayat al maidah 51,52 dan 53



Berikut kita dapat membaca sendiri tafsiran Quran yang ditulis oleh situs islam resmi. Ibnukatsir online.com menjelaskan dengan jelas bahwa Al maidah 51.52 dan 53 memang melarang umat islam utk berteman dng orang Yahudi dan Nasrani, dan tidak diperkenankan utk mengangkat musuh2 islam menjadi pemimpin umat muslim.
Tafsiran wuran al maidah 51
Menurut http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-al-maidah-ayat-51-53_5.html
*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) فَتَرَى الَّذِينَ
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ
بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ (52) وَيَقُولُ
الَّذِينَ آمَنُوا أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ حَبِطَتْ
أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ (53)*
/Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi wali /(kalian); /sebagian mereka adalah wali
bagi sebagian yang lain. Barang siapa di anta­ra kalian mengambil mereka
menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Maka kami akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya
/(orang-orang munafik) /bersegera mendekati mereka /(Yahudi dan Nasrani)
/seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana, ” Mudah-mudahan
Allah akan mendatangkan kemenangan /(kepada Rasul-Nya), /atau sesuatu
keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal
terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang
yang beriman akan mengatakan, “Inikah orang-orang yang bersumpah
sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta
kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi
orang-orang yang merugi./
Allah Swt. melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin mengangkat orang-orang
Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai wali mereka, karena mereka adalah
musuh-musuh Islam dan para penganutnya; semoga Allah melaknat mereka.
Kemudian Allah memberitahukan bahwa sebagian dari mereka adalah wali
bagi sebagian yang lain.
Selanjutnya Allah mengancam orang mukmin yang melakukan hal itu melalui
firman-Nya:
*وَ**مَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ*
/Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. /(Al-Maidah: 51),
hingga akhir ayat.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu
Syihab, telah menceritakan kepada kami Muhammad (Yakni Ibnu Sa’id ibnu
Sabiq), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Qais, dari Sammak
ibnu Harb, dari Iyad, bahwa Umar pernah memerintahkan Abu Musa Al Asyari
untuk melaporkan kepadanya tentang semua yang diambil dan yang
diberikannya (yakni pemasukan dan pengeluarannya) dalam suatu catatan
lengkap. Dan tersebutlah bahwa yang menjadi sekretaris Abu Musa saat itu
adalah seorang Nasrani. Kemudian hal tersebut dilaporkan kepada Khalifah
Umar r.a. Maka Khalifah Umar merasa heran akan hal tersebut, lalu ia
berkata, “Sesungguhnya orang ini benar-benar pandai, apakah kamu dapat
membacakan untuk kami sebuah surat di dalam masjid yang datang dari
negeri Syam?” Abu Musa Al-Asy’ari menjawab, “Dia tidak dapat
melakukannya.” Khalifah Umar bertanya, “Apakah dia sedang mempunyai
jinabah?” Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Tidak, tetapi dia adalah seorang
Nasrani.” Maka Khalifah Umar membentakku dan memukul pahaku, lalu
berkata, “Pecatlah dia.” Selanjutnya Khalifah Umar membacakan firman
Allah Swt.: /Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil
orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali /(kalian). (Al-Maidah: 51),
hingga akhir ayat
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul
Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah mencerita­kan kepada kami Usman
ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, dari Muhammad ibnu
Sirin yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Atabah pernah berkata,
“Hendaklah seseorang di antara kalian memelihara dirinya, jangan sampai
menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani, sedangkan dia tidak
menyadarinya.” Menurut Muhammad ibnu Sirin, yang dimaksud olehnya
menurut dugaan kami adalah firman Allah Swt. yang mengatakan: /Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi
dan Nasrani menjadi wali /(kalian). (Al-Maidah : 51), hingga akhir ayat.
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Asim, dari Ikrimah, dari Ibnu
Abbas, bahwa ia pernah ditanya mengenai sembelihan orang-orang Nasrani
Arab. Maka ia menjawab, “Boleh dimakan.” Allah Swt. hanya berfirman:
/Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. /(Al-Maidah: 51)
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abuz Zanad.
****
Firman Allah Swt.:
*{فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ}*
/Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya.
/(Al-Maidah: 52)
Yaitu keraguan, kebimbangan, dan kemunafikan.
*{يُسَارِعُونَ فِيهِمْ}*
/bersegera mendekati mereka. /(Al-Maidah: 52)
Maksudnya, mereka bersegera berteman akrab dengan orang-orang Yahudi dan
orang-orang Nasrani secara lahir batin.
*{يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ}*
/seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana./” (Al-Maidah: 52)
Yakni mereka melakukan demikian dengan alasan bahwa mereka takut akan
terjadi suatu perubahan, yaitu orang-orang kafir beroleh kemenangan atas
kaum muslim. Jika hal ini terjadi, berarti mereka akan memperoleh
perlindungan dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, meng­ingat orang-orang
Yahudi dan Nasrani mempunyai pengaruh tersendiri di kalangan
orang-orang kafir, sehingga sikap berteman akrab dengan mereka dapat
memberikan manfaat ini. Maka Allah Swt berfirman menjawab mereka:
*{فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ}*
/Mudah-mudahan Allah akan memberikan kemenangan /(kepada Rasul-Nya).
(Al-Maidah: 52)
Menurut As-Saddi, yang dimaksud dengan /al-Fathu /dalam ayat ini ialah
kemenangan atas kota Mekah. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa
makna yang dimaksud ialah kekuasaan peradilan dan keputusan.
*{أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ}*
/atau sesuatu keputusan dari-Nya. /(Al-Maidah: 52)
Menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah memungut /jizyah /atas
orang-orang Yahudi dan Nasrani.
*{فَيُصْبِحُوا}*
/Maka karena itu mereka menjadi. /(Al-Maidah: 52)
Yakni orang-orang yang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai
wali mereka dari kalangan kaum munafik.
*{عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ}*
/menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka
/(Al-Maidah: 52)
Yaitu menyesali perbuatan mereka yang berpihak kepada orang-orang Yahudi
dan Nasrani itu. Dengan kata lain, mereka menyesali perbuatan yang
mereka lakukan karena usahanya itu tidak dapat memberikan hasil apa pun,
tidak pula dapat menolak hal yang mereka hindari, bahkan berpihak kepada
mereka merupakan penyebab utama dari kerusakan itu sendiri. Kini mereka
keadaannya telah dipermalukan dan Allah telah menampakkan perkara mereka
di dunia ini kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, padahal sebelumnya
mereka tersembunyi, keadaan dan prinsip mereka masih belum diketahui.
Tetapi setelah semua penyebab yang mempermalukan mereka telah lengkap,
maka tampak jelaslah perkara mereka di mata hamba-hamba Allah yang
mukmin. Orang-orang mukmin merasa heran dengan sikap mereka (kaum
munafik itu), bagaimana mereka dapat menampakkan diri bahwa mereka
seakan-akan termasuk orang-orang mukmin, dan bahkan mereka berani
bersumpah untuk itu, tetapi dalam waktu yang sama mereka berpihak kepada
orang-orang Yahudi dan Nasrani? Dengan demikian, tampak jelaslah
kedustaan dan kebohongan mereka. Untuk itulah Allah menyebutkan dalam
firman-Nya:
*{وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَؤُلاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ
حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ}*
/Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan, “Inikah orang-orang yang
bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka
benar-benar beserta kalian?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu
mereka menjadi orang-orang yang merugi. /(Al-Maidah: 53)
Para ahli qiraah berbeda pendapat sehubungan dengan huruf /wawu /dari
ayat ini. Jumhur ulama menetapkan huruf /wawu /dalam firman-Nya:
*وَيَقُولُ الَّذِينَ**آمَنُوا*
/Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan. /(Al-Maidah: 53)
Kemudian sebagian dari mereka ada yang membaca /rafa’ /dan mengatakan
sebagai /ibtida /(permulaan kalimat). Sebagian dari mereka ada yang
me-/nasab/-kannya karena di-‘ataf-kan kepada firman-Nya:
*{فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ}*
/”Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya),
atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. . /(Al-Maidah: 53)
Dengan demikian, berarti bentuk lengkapnya ialah /an-yaqula /(dan
mudah-mudahan orang-orang yang beriman mengatakan).
Tetapi ulama Madinah membacanya dengan bacaan berikut:
*{يَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا}*
/Orang-orang yang beriman akan mengatakan. /(Al-Maidah: 53)
Yakni tanpa memakai huruf /wawu. /demikian pula yang tertera di dalam
mushaf mereka, menurut Ibnu Jarir.
Ibnu Juraij mengatakan dari Mujahid sehubungan dengan firman Allah Swt.:
/Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan kepada (RasulNya),
atau sesuatu keputusdan dari Sisi-Nya. (Al-Maidah: 52) /Sebagai
konsekuensinya disebutkan dalam firman-Nya: /Orang-orang yang beriman
akan mengatakan, “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh
dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kalian?” Rusak
binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang
merugi. /(Al-Maidah: 53).
Yakni tanpa memakai /wawu. /Demikianlah menurut salinan yang ada di
tangan kami. Tetapi barangkali ada kalimat yang digugurkan padanya,
karena menurut ungkapan /Tafsir Ruhul Ma’ani /disebutkan bahwa Ibnu
Kasir, Nafi’, dan Ibnu Amir membaca /yaaulu /tanpa memakai /wawu /dengan
interpretasi sebagai /isti-naf bayani. /Seakan-akan dikatakan bahwa
“lalu apakah yang dikatakan oleh orang-orang mukmin saat itu?”.
Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai penyebab yang
melatarbelakangi turunnya ayat-ayat yang mulia ini. As-Saddi
menye­butkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang
lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah
Perang Uhud, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi
itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi
bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau
suatu hal.”Sedangkan yang lainnya menyatakan, “Adapun saya, sesungguhnya
saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam,
lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya.” Maka
Allah Swt. berfirman: /Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian
mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali /(kalian).
(Al-Maidah: 51). hingga beberapa ayat berikutnya.
Ikrimah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu
Lubabah ibnu Abdul Munzir ketika Rasulullah Saw. mengutusnya kepada Bani
Quraizah, lalu mereka bertanya kepadanya, “Apakah yang akan dilakukan
olehnya terhadap kami?” Maka Abu Lubabah mengisya­ratkan dengan
tangannya ke arah tenggorokannya, yang maksudnya bahwa Nabi Saw. akan
menyembelih mereka. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu
Jarir.
Menurut pendapat yang lain. ayat ini diturunkan berkenaan dengan
Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, seperti apa yang telah disebutkan oleh
Ibnu Jarir:
*حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْب، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، عَنْ عَطِيَّةَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: جَاءَ
عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ، مِنْ بَنِي الْخَزْرَجِ، إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي مَوَالِي مَنْ يَهُودٍ كَثِيرٌ عَدَدُهُمْ، وَإِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
مِنْ وَلَايَةِ يَهُودٍ، وَأَتَوَلَّى اللَّهَ وَرَسُولَهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ: إِنِّي رَجُلٌ أَخَافُ
الدَّوَائِرَ، لَا أَبْرَأُ مِنْ وِلَايَةِ مَوَالِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَبْدِ
اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ: “يَا أَبَا الحُباب، مَا بَخِلْتَ بِهِ مِنْ وَلَايَةِ يَهُودَ عَلَى عُبَادَةَ بْنِ
الصَّامِتِ فَهُوَ لَكَ دُونَهُ”. قَالَ: قَدْ قَبِلْتُ! فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ] }****إِلَى قَوْلِهِ:
{فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ}*
bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan
kepada kami Ibnu Idris yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya
menceritakan hadis berikut dari Atiyyah ibnu Sa’d, bahwa Ubadah ibnus
Samit dari Banil Haris ibnul Khazraj datang kepada Rasulullah Saw., lalu
berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai teman-teman
setia dari kalangan orang-orang Yahudi yang jumlah mereka cukup banyak.
Dan sesungguhnya saya sekarang menyatakan berlepas diri kepada Allah dan
Rasul-Nya dari mengambil orang-orang Yahudi sebagai teman setia saya,
dan sekarang saya berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya.” Abdullah ibnu
Ubay ibnu Salul berkata, “Sesungguhnya aku adalah seseorang yang takut
akan mendapat bencana. Karenanya aku tidak mau berlepas diri dari mereka
yang telah menjadi teman-teman setiaku.” Maka Rasulullah Saw. bersabda
kepada Abdullah ibnu Ubay, /”Hai Abul Hubab, apa yang engkau pikirkan,
yaitu tidak mau melepaskan diri dari berteman setia dengan orang-orang
Yahudi, tidak seperti apa yang dilakukan oleh Ubadah ibnus Samit. Maka
hal itu hanyalah untukmu, bukan untuk Ubadah.”/ Abdullah ibnu Ubay
berkata, “Saya terima.” Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: /Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi
dan Nasrani menjadi wali /(kalian). (Al-Maidah: 51), hingga dua ayat
berikutnya.
*ثُمَّ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا هَنَّاد، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْر، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: لَمَّا انْهَزَمَ أَهْلُ بَدْرٍ قَالَ الْمُسْلِمُونَ لِأَوْلِيَائِهِمْ مِنْ يَهُودَ:
آمِنُوا قَبْلَ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِيَوْمٍ مِثْلَ يَوْمِ بَدْرٍ! فَقَالَ مَالِكُ بْنُ الصَّيْفِ: أَغَرَّكُمْ أَنْ
أَصَبْتُمْ رَهْطًا مِنْ قُرَيْشٍ لَا عِلْمَ لَهُمْ بِالْقِتَالِ!! أَمَا لَوْ أمْرَرْنا الْعَزِيمَةَ أَنْ نَسْتَجْمِعَ
عَلَيْكُمْ، لَمْ يَكُنْ لَكُمْ يَدٌ بِقِتَالِنَا فَقَالَ عُبَادَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنَ
الْيَهُودِ كَانَتْ شَدِيدَةً أَنْفُسُهُمْ، كَثِيرًا سِلَاحُهُمْ، شَدِيدَةً شَوْكَتُهُمْ، وَإِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ
[تَعَالَى] وَإِلَى رَسُولِهِ مِنْ وِلَايَةِ يَهُودَ، وَلَا مَوْلَى لِي إِلَّا اللَّهُ وَرَسُولُهُ. فَقَالَ عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ: لَكِنِّي لَا أَبْرَأُ مِنْ وَلَاءِ يَهُودٍ أَنَا رَجُلٌ لَا بُدَّ لِي مِنْهُمْ. فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا أَبَا الْحُبَابِ أَرَأَيْتَ الَّذِي نَفَّسْتَ بِهِ مِنْ وَلَاءِ يَهُودَ
عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، فَهُوَ لَكَ دُونَهُ؟ ” فَقَالَ: إِذًا أقبلُ! قَالَ: فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ] }
إِلَى قَوْلِهِ: {وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ}*
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hannad,
telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, telah menceritakan
kepada kami Usman ibnu Abdur Rahman, dari Az-Zuhri yang menceritakan
bahwa ketika kaum musyrik mengalami kekalahan dalam Perang Badar, kaum
muslim berkata kepada teman-teman mereka yang dari kalangan orang-orang
Yahudi, “Masuk Islamlah kalian sebelum Allah menimpakan kepada kalian
suatu bencana seperti yang terjadi dalam Perang Badar.” Malik ibnus Saif
berkata, “Kalian telah teperdaya dengan kemenangan kalian atas
segolongan orang-orang Quraisy yang tidak mempunyai pengalaman dalam
peperangan. Jika kami bertekad menghimpun kekuatan untuk menyerang
kalian, maka kalian tidak akan berdaya untuk memerangi kami.” Maka
Ubadah ibnus Samit berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguh­nya teman-teman
sejawatku dari kalangan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang
berjiwa keras, banyak memiliki senjata, dan kekuatan mereka cukup
tangguh. Sesungguhnya aku sekarang berlepas diri kepada Allah dan
Rasul-Nya dari berteman dengan orang-orang Yahudi. Sekarang bagiku tidak
ada pemimpin lagi kecuali Allah dan Rasul-Nya.” Tetapi Abdullah ibnu
Ubay berkata, “Tetapi aku tidak mau berlepas diri dari berteman sejawat
dengan orang-orang Yahudi. Sesungguhnya aku adalah orang yang bergantung
kepada mereka.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, /”Hai Abul Hubab,
bagaimanakah jika apa yang kamu sayangkan, yaitu berteman sejawat dengan
orang-orang Yahudi terhadap Ubadah ibnus Samit, hal itu hanyalah
untukmu, bukan untuk dia?”/ Abdullah ibnu Ubay menjawab, “Kalau begitu,
aku bersedia menerima­nya.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: /Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi
dan Nasrani menjadi wali /(kalian). (Al-Maidah: 51) sampai dengan
firman-Nya: /Allah memelihara kamu dari /(gangguan) /manusia.
/(Al-Maidah: 67)
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, kabilah Yahudi yang mula-mula berani
melanggar perjanjian antara mereka dan Rasulullah Saw. adalah Bani Qainuqa.
*فَحَدَّثَنِي عَاصِمُ بْنُ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ قَالَ: فَحَاصَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حتى نَزَلُوا عَلَى حُكْمِهِ، فَقَامَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بن أبي بن سَلُولَ، حِينَ أَمْكَنَهُ اللَّهُ
مِنْهُمْ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَحْسِنْ فِي مَوَالي. وَكَانُوا حُلَفَاءَ الْخَزْرَجِ، قَالَ: فَأَبْطَأَ عَلَيْهِ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَحْسِنْ فِي مَوَالِي. قَالَ: فَأَعْرَضَ
عَنْهُ. فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِي جَيْبِ دِرْعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “أَرْسِلْنِي”. وَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى
رُئِي لِوَجْهِهِ ظُلَلًا ثُمَّ قَالَ: “وَيْحَكَ أَرْسِلْنِي”. قَالَ: لَا وَاللَّهِ لَا أُرْسِلُكَ حَتَّى تُحْسِنَ فِي
مَوَالي، أَرْبَعِمِائَةِ حَاسِرٍ، وَثَلَاثِمِائَةِ دَارِعٍ، قَدْ مَنَعُونِي مِنَ الْأَحْمَرِ وَالْأَسْوَدِ،
تَحْصُدُهُمْ فِي غَدَاةٍ وَاحِدَةٍ؟! إِنِّي امْرُؤٌ أَخْشَى الدَّوَائِرَ، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “هُم لَكَ.”*
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadanya Asim ibnu
Umar ibnu Qatadah yang mengatakan bahwa lalu Rasulullah Saw. mengepung
mereka hingga mereka menyerah dan mau tunduk di bawah hukumnya. Lalu
bangkitlah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul kepada Rasulullah, setelah
Allah memberikan kemenangan kepadanya atas mereka. Kemudian Abdullah
Ibnu Ubay ibnu Salul berkata, “Hai Muhammad, perlakukanlah teman-teman
sejawatku itu dengan baik, karena mereka adalah teman-teman sepakta
orang-orang Khazraj.” Rasulullah Saw. tidak melayaninya, dan Abdullah
ibnu Ubay ibnu Salul berkata lagi, “Hai Muhammad, perlakukanlah
teman-teman sejawatku ini dengan baik. Tetapi Rasulullah Saw. tidak
mempedulikannya. Kemudian Abdullah ibnu Ubay memasukkan tangannya ke
dalam kantong baju jubah Nabi Saw., dan Nabi Saw. bersabda
kepadanya.”/Lepaskanlah aku/!” Bahkan Rasulullah Saw. marah sehingga
kelihatan roman muka beliau memerah, kemudian bersabda lagi, “/Celakalah
kamu, lepaskan aku. /Abdullah ibnu Ubay berkata, “Tidak, demi Allah,
sebelum engkau bersedia akan memperlakukan teman-teman sejawatku dengan
perlakuan yang baik. Mereka terdiri atas empat ratus orang yang tidak
memakai baju besi dan tiga ratus orang memakai baju besi, dahulu mereka
membelaku dari ancaman orang-orang yang berkulit merah dan berkulit
hitam yang selalu mengancamku, sesungguhnya aku adalah orang yang takut
akan tertimpa bencana.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “/Mereka
kuserahkan kepadamu/.”
*قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: فَحَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَاقَ بْنُ يَسار، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ
عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: لَمَّا حَارَبَتْ بَنُو قَيْنُقَاع رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
تَشَبَّثَ بِأَمْرِهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ، وَقَامَ دُونَهُمْ، وَمَشَى عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ إِلَى رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ أَحَدَ بَنِي عَوْف بْنِ الْخَزْرَجِ، لَهُ مِنْ حِلْفِهِمْ مِثْلَ
الَّذِي لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ، فَجَعَلَهُمْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَبَرَّأَ إِلَى
اللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حِلْفِهِمْ، وَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَبَرَّأُ إِلَى
اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مِنْ حِلْفِهِمْ، وَأَتَوَلَّى اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ، وَأَبْرَأُ مِنْ حِلْفَ
الْكُفَّارِ وَوَلَايَتِهِمْ. فَفِيهِ وَفِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ نَزَلَتِ الْآيَاتُ فِي الْمَائِدَةِ: {يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} إِلَى
قَوْلِهِ: {وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ}*
Muhammad ibnu Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq ibnu
Yasar, dari Ubadah ibnul Walid ibnu Ubadah ibnus Samit yang mengatakan
bahwa ketika Bani Qainuqa’ memerangi Rasulullah Saw., Abdullah ibnu Ubay
berpihak dan membela mereka, sedangkan Ubadah ibnus Samit berpihak
kepada Rasulullah Saw. Dia adalah salah seorang dari kalangan Bani Auf
ibnul Khazraj yang juga merupakan teman sepakta Bani Qainuqa’, sama
dengan Abdullah ibnu Ubay. Ubadah ibnus Samit menyerahkan perkara mereka
kepada Rasulullah Saw. dan berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari
berteman dengan mereka. Lalu ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, saya
berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari berteman dengan mere­ka;
dan sekarang saya berpihak kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang
mukmin; saya pun menyatakan lepas dari perjanjian saya dengan
orang-orang kafir dan tidak mau lagi berteman dengan mereka.” Berkenaan
dengan dia dan Abdullah ibnu Ubay ayat-ayat ini diturunkan,- yaitu
firman Allah Swt. yang ada di dalam surat Al-Maidah: /Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani
menjadi wali /(kalian); /sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang
lain. /(Al-Maidah: 51) sampai dengan firman-Nya: /Dan barang siapa
mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin menjadi penolongnya,
maka sesungguhnya pengikut /(agama) /Allah itulah yang pasti menang.
/(Al-Maidah: 56)
*قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ،
عَنْ محمد بن****إِسْحَاقَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَة، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: دَخَلْتُ مَعَ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ نَعُودُهُ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ حُبّ يَهُودَ”. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَقَدْ أَبْغَضَهُمْ
أَسْعَدُ بْنُ زُرَارَةَ، فَمَاتَ.*
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu
Sa’id, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu
Zaidah, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Usamah
ibnu Zaid yang menceritakan bahwa ia pernah bersama dengan Rasulullah
Saw. menjenguk Abdullah ibnu Ubay yang sedang sakit. Maka Nabi Saw.
bersabda kepadanya: /Aku pernah melarangmu jangan berteman dengan
orang-orang Yahudi. /Tetapi Abdullah ibnu Ubay menjawab, “As’ad ibnu
Zararah pernah membenci mereka, dan ternyata dia mati.”
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud melalui hadis Muhammad
ibnu Ishaq.
Posted in: Juz 6

PENDAPAT BERBEDA DATANG DARI PROF-QURAISH-SHIHAB
YANG TIDAK SECARA MUTLAK MELARANG MENGANGKAT PEMIMPIN NON ISLAM
Dalam situs fiqhmenjawab.net beliau mengajarkan :
Dari website : http://www.fiqhmenjawab.net/2016/10/tafsir-al-maidah-ayat-51-menurut-prof-quraish-shihab/
fiqhmenjawab.net ~
Usai sidang di Mahkamah Konstitusi, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tiba-tiba saja diteriaki ‘gila’ oleh Habib Novel Bamukmin alias Habib Novel. Habib Novel bereaksi keras, karena tak terima Ahok yang dianggap telah mempermainkan ayat suci Al-Qur’an. Sebelumnya, setelah menyapa warga di Kepulauan Seribu, Ahok sempat menyebut kalau warga dibohongi dengan menggunakan ayat Al-Maidah untuk tidak memilih dirinya.

Seperti diketahui, ayat dari Surah Al-Maidah yang kerap disebut sebagai dalil menolak ‘pemimpin kafir’ itu ialah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’; sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Baca juga: BAHTSUL MASAIL: HUKUM MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM

Benarkan ayat di atas menyerukan penolakan “pemimpin kafir”? Menurut pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab, ayat di atas tidaklah berdiri sendiri namun memiliki kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Hanya memenggal satu ayat dan melepaskan ayat lain berimplikasi pada kesimpulan akhir. Padahal, Al-Maidah ayat 51 merupakan kelanjutan atau konsekuensi dari petunjuk-petunjuk sebelumnya.

Prof. Quraish Shihab
“Konsekuensi dari sikap orang yang memusuhi Al-Qur’an, enggan mengikuti tuntunannya…”

Pada ayat sebelumnya, Al-Qur’an diturunkan untuk meluruskan apa yang keliru dari kitab Taurat dan Injil akibat ulah kaum-kaum sebelumnya. Jika mereka – Yahudi dan Nasrani, enggan mengikuti tuntunan Al-Qur’an, maka mereka berarti memberi ‘peluang’ pada Allah untuk menjatuhkan siksa terhadap mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan.

“Jadi, mereka dinilai enggan mengikuti tuntunan Tuhan tapi senang mengikuti tuntunan jahiliah,” katanya dalam pengajian Tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta.

Baca juga: QURAISH SHIHAB YANG ENGGAN DIPANGGIL HABIB ATAU KIAI

Lalu, dilanjutkan oleh ayat 51 surat Al-Maidah. Kalau memang seperti itu sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani – mengubah kitab suci mereka, enggan mengikuti Al-Qur’an, keinginannya mengikuti jahiliyah, – “Maka wahai orang-orang beriman janganlah engkau menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya.”

Bagi Quraish Shihab, hubungan ayat ini dan ayat sebelumnya sangat ketat. “Kalau begitu sifat-sifatnya, jangan jadikan mereka awliya. Nah, awliya itu apa?,” tanyanya memantik diskusi sebelum mengkaji lebih dalam.

‘Awliya’ ialah jamak atau bentuk plural dari ‘wali’. Di Indonesia, kata ini populer sehingga ada kata wali-kota, wali-nikah dst. Wali ialah, kata penulis Tafsir Al Misbah ini, pada mulanya berarti “yang dekat”. Karena itu, waliyullah juga bisa diartikan orang yang dekat dengan Allah.

Wali kota itu berarti yang mestinya paling dekat dengan masyarakat. Orang yang paling cepat membantu Anda, ialah orang yang paling dekat dengan Anda. Nah, dari sini lantas dikatakan bahwa wali itu pemimpin atau penolong.

Adapun wali dalam pernikahan – apalagi terhadap anak gadis – sebenarnya fungsinya melindungi anak gadis itu sehingga tidak dibohongi oleh pria yang hanya ingin ‘iseng’ padanya.
Wali Allah berarti orang yang dekat pada Allah. Seseorang yang dekat pada yang lain, berarti ia senang padanya. Setan jauh daripadanya karena ia tidak senang.

“Dari sini, kata ‘wali’ yang jamaknya ‘awliya’ memiliki makna bermacam-macam.”

Yang jelas, kata jebolan Al Azhar Mesir ini, kalau ia dalam konteks hubungan antar manusia, berarti persahabatan yang begitu kental. Sehingga tidak ada lagi rahasia. Kalau dalam hubungan suami-istri itu cinta yang melebur kepribadian.

Baca juga: BENARKAH DILARANG MEMILIH NON-MUSLIM SEBAGAI PEMIMPIN?

“Dalam ayat ini, jangan angkat mereka –Yahudi dan Nasrani- yang sifatnya seperti dikemukakan pada ayat sebelumnya menjadi wali atau orang dekatmu. Sehingga engkau membocorkan rahasia kepada mereka. Sehingga tidak ada batas antara mereka.”

Dengan demikian, ‘awliya’ bukan sebatas bermakna pemimpin, kata Quraish Shihab. “Itu pun, sekali lagi, jika mereka enggan mengikuti tuntunan Allah dan hanya mau mengikuti tuntunan Jahiliyah seperti ayat yang lain.”

Kita lihat, jika mereka juga menginginkan kemaslahatan untuk kita, boleh tidak kita bersahabat? Quraish Shihab kembali bertanya, jika ada pilihan antara pilot pesawat yang pandai namun kafir dan pilot kurang pandai yang Muslim, “pilih mana?” sontak jamaah yang hadir pun tertawa.

Atau, pilihan antara dokter Nasrani yang kaya pengalaman dan dokter Muslim tapi minim pengalaman. Dalam konteks seperti ini, bagi Quraish Shihab, tidak dilarang. Yang terlarang ialah melebur sehingga tidak ada lagi perbedaan termasuk dalam kepribadian dan keyakinan. Karena tidak ada lagi batas, kita menyampaikan hal-hal yang berupa rahasia pada mereka. “Itu yang terlarang.”

Namun kalau pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dsb, tidaklah dilarang. Selanjutnya ayat ini berbicara tentang sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Artinya, sebagian orang Yahudi bekerjasama dengan orang Nasrani yang walaupun keduanya beda agama namun kepentingannya sama, yaitu mencederai kalian. Oleh sebab itu, Al-Qur’an berpesan, “Siapa yang menjadikan mereka itu orang yang dekat, yaitu meleburkan kepribadiannya sebagai Muslim sehingga sama keadaannya (sifat-sifatnya) dengan mereka, oleh ayat ini diaggap sama dengan mereka.”

Baca juga: SAATNYA MEMBACA KITAB TAFSIR AL-MAIDAH AYAT 51

Terakhir, Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang zalim. Menurut Quraish Shihab, petunjuk ada dua macam; umum dan khusus. Petunjuk khusus itu, memberi tahu dan mengantar. Allah memberi tahu kepada semua manusia bahwa ini baik dan itu buruk tapi tidak semua diantar oleh-Nya. Di sisi lain, ada orang yang tidak sekedar diberitahu jalan baik, namun juga diantar jika orang itu menginginkan. Meski demikian, Allah tidak memberi petunjuk khusus kepada mereka yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. []

Lihat videonya: https://youtu.be/kYjeb6KMKh0

Source: islamindonesia.id
Facebook Comments

WEBSITE INI MALAH LEBIH SADIS LAGI DLM MENGAMALKAN AL MAIDAH AYAT 51

Alamatnya : https://konsultasisyariah.com/28439-tafsir-surat-al-maidah-ayat-51.html
Simak saja kata2 yang sangat jelas mengajarkan kebencian agama,suku dan ras
“Sebelum gubernur kafir itu menyebutnya, masyarakat gak pernah sadar dan gak pernah ada perhatian tentang ayat ini. Banyak masyarakat juga gak pernah perhatian, bahwa ayat ini merupakan dalil larangan memilih pemimpin dari yahudi dan nasrani. Sungguh ini efek samping dari konspirasi yang sedang digencarkan si gubernur kafir itu. Namun Allah menghendaki lain, konspirasi balas konspirasi,”
” Umar melarang, jangan sampai orang kafir menjadi pejabat yang memiliki posisi di pemerintahan. Sekalipun dia hanya seorang akuntan negara.”
“Orang muslim yang menjadi TEMAN-AHOAX, para pendukung AHOAX, berpihak pada AHOAX, merekalah Komplotan Munafik Indonesia (KMI). Jangan pernah shalat bersama mereka.”
Bila orang semacam ini jadi pemimpin, bagaimana nasib bangsa Indonesia kelak ?
Kita mulai saja baca tulisannya
Surat al-Maidah ayat 51
Bagaimana tafsir surat al-Maidah ayat 51. Dan bagaimana sikap kita dg ungkapan tokoh ormas yang membela pelecehan orang kafir terhadap al-Quran?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Sebelum membahas tafsir surat al-Maidah ayat 51, saya tertarik untuk menyebutkan dua catatan terkait peristiwa ini,
Pertama, kejadian ini merupakan imbal balik atas konspirasi yang digencarkan si gubernur kafir
Seketika ayat ini menjadi sangat tenar di masyarakat, setelah si gubernur kafir itu berusaha ingin menggugatnya dari al-Quran. Masyarakat sering menyebutnya, serasa baru saja diturunkan. Melihat keadaan ini saya teringat peristiwa wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebelum kedatangan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Umar berkhutbah dengan lantang, menegaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mati. Tapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi panggilan Rab-nya seperti yang terjadi pada Musa ‘alaihis salam.
Ketika Abu Bakr datang, beliau langsung mendatangi jenazah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memastikan kondisinya. Setelah beliau melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Muhammad telah meninggal, beliau langsung keluar rumah duka menuju masjid, menyuruh Umar untuk duduk, dan beliau menyampaikan pesan,
أما بعد، من كان منكم يعبد محمدا صلى الله عليه وسلم فإن محمدا قد مات، ومن كان منكم يعبد الله، فإن الله حي لا يموت
Amma ba’du, siapa yang menyembah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal. Dan siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup, dan tidak mati.
Kemudian Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengutip firman Allah,
وَما مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ، قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ، أَفَإِنْ ماتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلى أَعْقابِكُمْ، وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئاً، وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah ada sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan murtad? Barangsiapa yang murtad, ia tidak dapat merugikan Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran: 144)
Kata Ibnu Abbas, mengomentari pernyataan di atas,
والله لكأن الناس لم يعلموا أن الله أنزل هذه الآية حتى تلاها أبو بكر، فتلقاها منه الناس كلهم، فما أسمع بشرا من الناس إلا يتلوها
Demi Allah, seolah-olah masyarakat belum pernah tahu bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, sampai dibaca oleh Abu Bakr. Lalu disebut-sebut semua orang. Setiap saya bertemu orang, pasti dia membaca ayat ini. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 432).
Sebelum gubernur kafir itu menyebutnya, masyarakat gak pernah sadar dan gak pernah ada perhatian tentang ayat ini. Banyak masyarakat juga gak pernah perhatian, bahwa ayat ini merupakan dalil larangan memilih pemimpin dari yahudi dan nasrani. Sungguh ini efek samping dari konspirasi yang sedang digencarkan si gubernur kafir itu. Namun Allah menghendaki lain, konspirasi balas konspirasi,
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Mereka melakukan konspirasi, dan Allah juga membalas konspirasi mereka. Dan Allah sebaik-baik dalam membalas konspirasi. (QS. Ali Imran: 54)
Kedua, bahwa orang kafir sekalipun, mereka bisa memahami pesan yang ada dalam al-Qur’an. Meskipun mereka ndableg, dan tidak mau menerimanya. Mereka kufur kepada seluruh isi al-Quran. Ini dalil bahwa sebenarnya hujjah (bukti kebenaran) telah sampai kepada mereka. Hanya saja mereka tidak memiliki hidayah taufiq, sehingga mereka tidak mau mengamalkannya.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari jalur Thariq bin Syihab, bahwa pernah ada orang Yahudi yang datang menemui Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, lalu mengatakan,
يا عمر، إنكم تقرءون آية في كتابكم، لو علينا معشر اليهود نزلت لاتخذنا ذلك اليوم عيدا
Wahai Umar, kalian membaca satu ayat di kitab kalian, andaikan ayat ini turun kepada kami kaum Yahudi, tentu akan kami jadikan hari turunnya ayat itu sebagai hari raya.
Umar bertanya: “Ayat apa itu?”
Jawab Yahudi: “Firman Allah,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي
“Pada hari dimana Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan aku penuhi nikmat-Ku (nikmat hidayah) untuk kalian…” (QS. Al-Maidah: 3)
Selanjutnya, khalifah Umar berkomentar,
والله إني لأعلم اليوم الذي نزلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم، والساعة التي نزلت فيها على رسول الله صلى الله عليه وسلم، نزلت عَشية عَرَفَة في يوم جمعة
“Demi Allah, saya tahu hari dimana ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, waktu dimana ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat ini turun di siang hari Arafah, pada hari Jumat.” (HR. Ahmad 188).
Ini menunjukkan bahwa orang sesat seukuran yahudi sekalipun, mereka tetap membaca al-Quran, sehingga hujjah telah sampai ke mereka.
Tafsir QS. al-Maidah ayat 51
Saya tidak perlu berpannjang lebar. Hanya ingin mencamtumkan riwayat dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Dari Sammak bin Harb, dari Iyadh,
أن عمر أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد، وكان له كاتب نصراني، فرفع إليه ذلك، فعجب عمر رضي الله عنه وقال: إن هذا لحفيظ، هل أنت قارئ لنا كتابًا في المسجد جاء من الشام؟ فقال: إنه لا يستطيع أن يدخل المسجد فقال عمر: أجُنُبٌ هو؟ قال: لا بل نصراني. قال: فانتهرني وضرب فخذي، ثم قال: أخرجوه” ثم قرأ: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ
Umar memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari untuk melaporkan semua yang diterima dan yang diserahkan dalam satu catatan. Abu Musa memiliki juru tulis beragama nasrani. Kemudian catatan itu diserahkan. Dan Umar radhiyallahu ‘anhu terheran, beliau mengatakan, “Ini sangat rinci.” Lalu beliau meminta,
“Apakah nanti di masjid, kamu bisa membacakan untuk kami, surat yang datang dari Syam?”
Abu Musa mengatakan, “Dia tidak boleh masuk masjid?”
Tanya Umar, “Mengapa? Apakah dia junub?”
“Bukan, dia nasrani.” Jawab Abu Musa.
Umar langsung membentakku dan memukul pahaku, dan mengatakan, “Keluarkan dia.”
kemudian beliau membaca firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim..” (QS. Al-Maidah: 51)
Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu katsir dalam tafsirnya (3/132).
Umar melarang, jangan sampai orang kafir menjadi pejabat yang memiliki posisi di pemerintahan. Sekalipun dia hanya seorang akuntan negara.
Komplotan Munafiq Indonesia (KMI)
Sikap dan perilaku jahat kaum munafik – yang secara lahir mengaku beriman, tetapi batinnya mencintai kekufuran – bahkan diabadikan dalam satu surat khusus, yaitu Surat al-Munafiqun (surat ke-63). Mereka dikenal sebagai pendusta, mengaku-aku iman padahal selalu memusuhi kaum Muslimin dan membela orang kafir.
Kadang mereka tak segan bersumpah-sumpah agar bisa dipercaya. Padahal, mereka selalu berusaha menghalagi manusia untuk mendekat kepada Allah. Juga, tak jarang penampilan lahiriah kaum munafik itu sangat memukau; ucapan-ucapan mereka pun banyak didengar orang. Mereka bisa berpenampilan seperti profesor ahli tafsir, atau pemuka ormas besar, atau mengaku pakar agama. Silahkan Anda baca QS. al-Munafiqun, ayat: 1-5.
Dalam peristiwa semacam ini, anda sudah bisa menebak arah gerakannya. Mereka akan selalu menjadi garda depan pembela gubernur kafir itu. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah gubernur kafir.
Anda baca ayat ini:
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman dan penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemenangan di sisi orang kafir itu? maka sesungguhnya semua kemenangan kepunyaan Allah. (QS. an-Nisa’: 138 – 139)
Orang muslim yang menjadi TEMAN-AHOAX, para pendukung AHOAX, berpihak pada AHOAX, merekalah Komplotan Munafik Indonesia (KMI). Jangan pernah shalat bersama mereka.
Ya Rabb kami, jauhkan kami dari kehadiran pemimpin kafir di tengah kami. Dan jauhkan kami dari komplotan munafiqun, yang selalu berdusta atas nama-Mu. Lindungi kami dari konspirasi mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Artikel web geotimes menarik utk dibaca

Ahok dan Kepemimpinan Non-Muslim

Ahok dan Kepemimpinan Non-Muslim
Penulis Mun’im Sirry –
Senin, 4 April 2016

Shinta Nuriyah Wahid, istri Presiden Abdurrahman Wahid (ketiga kanan), bersama anak-anaknya antara lain Yenny Wahid dan Anita Hayatunnufus menyerahkan Gus Dur Award kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dalam acara peresmian rumah pergerakan Griya Gus Dur di Taman Amir Hamzah, Jakarta, Minggu (24/1). ANTARA FOTO/Reno Esnir.
Kontroversi seputar kepemimpinan non-Muslim dalam masyarakat Muslim kembali menjadi perbincangan publik. Intrik politik di balik wacana ini jelas terlihat. Setiap kali ada non-Muslim maju sebagai calon dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), isu ini selalu dimunculkan sebagai instrumen politik untuk memobilisasi pemilih Muslim dengan mengobarkan sentimen fanatik terhadap calon non-Muslim.
“Perang wacana” ini seolah tak pernah berakhir. Masing-masing pihak mengutip ayat-ayat tertentu dari kitab suci. Ayat yang paling sering dikutip ialah surat al-Ma’idah ayat 51, yang melarang Muslim memilih Yahudi dan Kristen sebagai awliya. Kata “awliya” sengaja tidak diterjemahkan karena bisa dimaknai sebagai “pemimpin”, “teman”, atau “sekutu”.
Ketika Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok muncul sebagai calon kuat gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta, ayat itu pun disajikan kembali dengan berbagai perspektif. Yang terlupakan dalam diskusi kita ialah aspek sejarah. Apa yang diajarkan sejarah Islam tentang kepemimpinan non-Muslim?
Belajar dari Sejarah
Sejarah Islam bukan hanya terkait narasi tentang kaum Muslim. Sejak awal, elemen non-Muslim menempati posisi penting dalam pemerintahan Muslim. Dengan melihat peran mereka dalam praktik pemerintahan Muslim awal, debat soal agama Ahok dan calon non-Muslim lain diharapkan bisa segera diakhiri.
Tak dapat dimungkiri, sebenarnya kepemimpinan non-Muslim sudah lama menjadi kebijakan. Dalam sejarah Islam, mereka memangku jabatan-jabatan penting selama pemerintahan Umayah, Abbasiyah hingga syi’ah Fatimiyah. Misalnya, mereka diangkat menjadi perdana menteri (wuzara), gubernur (awliya) dan sekretaris (kuttab). Berikut saya berikan beberapa contoh, kemudian kita diskusikan kenapa hal itu terjadi.
Di bawah pemerintahan Umayah (661-750), banyak non-Muslim diangkat untuk posisi-posisi pemerintahan strategis mengelola administrasi negara. Khalifah Umayah pertama yang mempekerjakan non-Muslim secara rutin ialah Mu‘awiyah, yang berkuasa dari 661 hingga 680. Khalifah pertama ini mengangkat beberapa sekretaris Kristen untuk mengelola urusan keuangan negara. Misalnya, Mansur bin Sarjun (Sergius), seorang Kristen. Khalifah Marwan (683-685) punya dua sekretaris Kristen, yakni Athanasius dan Ishaq. Yang disebut terakhir kemudian diangkat sebagai kepala pemerintahan di Alexandria.
Pendek kata, hingga akhir pemerintahan Umayah, kantor-kantor pemerintahan cukup bersahabat dengan non-Muslim. Mereka dapat ditemukan di hampir setiap sektor.
Kebijakan ini berlanjut pada pemerintahan Abbasiyah. Ketika sistem wazarah (kantor pedana menteri) yang diadopsi dari Kerajaan Sasanian Persia diperkenalkan ke dalam pemerintahan Abbasiyah, jabatan tertinggi setelah kepala negara (khalifah) ini pun sering diberikan kepada non-Muslim. Tugas wazir (perdana menteri) ialah mengimplementasikan tata-kelola negara.
Khalifah Abbasiyah pertama yang mempekerjakan non-Muslim ialah al-Mu‘tasim (833-842). Ia dikenal karena perhatiannya, bahkan favoritisme, dalam mengangkat non-Muslim untuk jabatan-jabatan publik. Dua orang Kristen bersaudara dikabarkan punya kedekatan khusus dengan sang khalifah: Yang satu bernama Salmuyah, menempati posisi sekretaris negara.
Saking strategisnya posisi Salmuyah, setiap dokumen kenegaraan harus mendapat persetujuannya. Saudaranya bernama Ibrahim dipercaya Khalifah untuk menjadi pengelola Baitul Mal atau semacam departemen keuangan. Karena posisi ini terkait dengan denyut nadi negara, pengelolaan kementerian ini kita bayangkan akan diserahkan kepada Muslim. Ternyata tidak.
Al-Mu‘tasim juga punya seorang perdana menteri Kristen bernama Fadl bin Marwan bin Masarjis. Menurut penulis biografi Ibn Khallikan (wafat 1282), al-Mu‘tasim sangat mempercayai Fadl, sehingga muncul kesan umum bahwa ia bahkan lebih powerful dibanding khalifah sendiri. Kekuasaan Fadl yang begitu luas juga akhirnya memicu ketegangan antara dirinya dan khalifah sehingga menyebabkan keretakan hubungan mereka.
Daftar pemimpin non-Muslim dalam masyarakat Muslim awal cukup panjang. Tak cukup ruang untuk disebutkan secara detail di sini. Di bawah pemerintahan Fatimiyah di Mesir, kebijakan ini bukan hanya berlanjut, bahkan lebih ekstensif. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa non-Muslim menempati jabatan publik secara tidak proporsional. Tidak ada rezim pemerintahan Muslim yang memberikan tingkat favoritisme kepada non-Muslim serupa seperti apa yang dilakukan dinasti Fatimiyah.
Memang, di sana-sini muncul kegusaran di kalangan tertentu atas pengangkatan non-Muslim yang begitu massif. Khalifah al-Mutawakkil (847-862), misalnya, disebutkan melarang non-Muslim untuk menempati jabatan publik. Sebelumnya, Umar bin Abdul Aziz, khalifah Umayah, dikabarkan mengeluarkan dekrit diskriminatif terkait non-Muslim.
Menarik dicatat, al-Mutawakkil sendiri sebenarnya mempekerjakan orang-orang Kristen, seperti Dulayl bin Ya‘qub. Umar juga menyewa arsitek Kristen untuk membangun istananya. Belum lagi sejumlah orang Kristen yang diangkat menjadi sekretaris dan dokter.
Kebijakan Meritokrasi
Pertanyaan tersisa: Kenapa non-Muslim dibutuhkan untuk mengelola negara? Alasan utamanya ialah pragmatisme. Yakni, bahwa banyak non-Muslim punya pengalaman dan kecakapan untuk menjalankan roda pemerintahan. Seperti umum diketahui, ekspansi politik Islam berlangsung begitu cepat, dan para Muslim Arab itu umumnya tidak punya pengalaman mengelola negara.
Dalam banyak kasus, para pemimpin Muslim membiarkan sistem tata-kelola daerah taklukan yang sudah berlangsung lama tetap berada di tangan non-Muslim. Lebih dari itu, sistem tata-kelola itu tidak dikenal di kalangan penguasa Muslim Arab, sehingga mereka membutuhkan pegawai yang punya pengalaman mengelola jalannya roda pemerintahan. Itulah sebabnya orang-orang Kristen yang sudah memiliki keterampilan dibutuhkan untuk menjabat posisi-posisi strategis tersebut.
Kemampuan dan pengalaman menjadi kunci dari kebijakan penguasa Muslim untuk menempatkan non-Muslim sebagai perdana menteri, gubernur atau sekretaris. Sebagai birokrat yang terlatih dalam sistem pemerintahan Byzantium atau Sasanian, non-Muslim dibutuhkan untuk menstabilkan administrasi negara.
Kita dapat simpulkan, meritokrasi merupakan pertimbangan utama dalam pengangkatan non-Muslim. Banyak sarjana menyebut praktik itu memperlihatkan betapa pemerintahan Muslim awal cukup toleran terhadap non-Muslim, termasuk untuk menjabat posisi penting. Yang lebih penting ialah kita bisa belajar dari sejarah dan menghentikan perdebatan soal validitas kepemimpinan non-Muslim.
Dengan demikian, mereka yang mempersoalkan agama Ahok bukan saja buta sejarah tapi juga ngeyel terhadap hal-hal yang tidak berdasar. Sudah saatnya kita ucapkan RIP (rest in peace) untuk isu agama yang satu ini.

Tidak Ada Larangan Kepemimpinan Non-Muslim dalam Al-Qur’an
Penulis Mohamad Guntur Romli –
Kamis, 29 September 2016
17837

Berbagi di Facebook

Tweet di Twitter



Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menerima Gus Dur Award 2016 dari Shinta Nuriyah Wahid, istri Presiden keempat Indonesia Gus Dur, di Pegangsaan, Jakarta, Minggu (24/1). ANTARA FOTO/Reno E.
Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta semakin dekat, sayangnya makin gencar politisasi ayat. Sebenarnya saya tidak tertarik dengan perdebatan perang ayat, karena akan terlihat menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk menyerang lawan dan membela calonnya sendiri. Namun, politisasi ayat mesti dihentikan, apalagi ayat-ayat yang sengaja dimunculkan menjelang pilkada dan pemilu.
Dulu, ada partai politik yang mengaku partai Islam paling keras mengeluarkan fatwa pengharaman kepemimpinan perempuan, karena calonnya waktu itu Megawati. Namun setelah Megawati menjadi presiden, mereka paling bersemangat berkoalisi.
Demikian pula menjelang Pilkada Jakarta, karena ada calon yang non-muslim: Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), ayat-ayat al-Qur’an pun dipolitisasi untuk menjegalnya. Sayangnya, mereka yang melakukan politisasi SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) terhadap Ahok, sebelum ini ngotot ingin memboyong Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya, ke Jakarta. Padahal, mereka masih memiliki fatwa yang melarang kepemimpinan perempuan.
Jauh sebelum Pilkada Jakarta, tahun 2013, saya sudah menulis buku Islam Tanpa Diskriminasi: Mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, yang bertujuan menyiarkan ajaran Islam non-diskriminatif, baik atas dasar SARA, gender, dan kelas sosial. Dalam buku itu saya juga sudah membahas soal kepemimpinan non-muslim, jauh sebelum ada polemik soal Pilkada Jakarta. Tulisan di bawah ini, hanyalah rangkuman dari buku saya itu.
Sebab utama polemik pelarangan kepemimpinan non-muslim saat ini berakar pada dasar: politisasi agama. Karena ayat-ayat ini hanya dipolitisasi, hanya dijadikan alat politik, maka tidak dipahami secara mendalam. Ayat-ayat al-Qur’an tidak diambil sebagai sumber inspirasi dan ajaran, tapi hanya sebagai “senjata pemukul”. Ayat-ayat itu tidak dipahami maksud dan tafsirnya secara detail, tidak dilacak sebab-sebab turunnya ayat-ayat ini, mereka pun hanya mempermainkan makna harfiahnya, yang lagi-lagi menunjukkan kekeliruan yang fatal.
Mereka membatasi arti wali dalam al-Qur’an, yang bentuk jamaknya awliyâ’ dengan terjemahan “pemimpin” saja. Padahal, kata wali bisa berarti: pelindung, pengasuh, penolong, teman, sekutu, dan bisa juga penguasa atau pemimpin. Tapi kata “wali” dalam konteks al-Qur’an dalam ayat-ayat yang mereka kutip sebenarnya lebih condong maknanya sebagai “penolong, teman, dan sekutu”. Yang patut dicatat, kecaman-kecaman al-Qur’an itu akibat dari ketegangan politik antara umat Islam waktu itu dengan komunitas-komunitas di luar Islam.
Larangan ini bersifat kontekstual, karena ada sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Ketegangan politis dan psikologis akibat konflik-konflik saat itu telah mendorong sikap agar umat Islam selalu waspada dan berhati-hati. Misalnya yang terekam dalam ayat-ayat berikut ini:
(1) Menjadikan orang kafir sebagai “wali” yang berarti “pelindung” seperti yang termaktub dalam surat Âli Imrân (3) ayat 28:
لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ
Janganlah orang yang beriman mengambil orang yang kafir—bukan orang yang mukmin—sebagai pelindung, barang siapa melakukan hal itu tiada sesuatu pertolongan dari Allah kecuali untuk menjaga diri terhadap mereka sebaik-baiknya, Allah memperingatkan kamu (supaya ingat) kepada-Nya.
Dalam redaksi yang hampir sama dalam surat al-Nisâ’ (4) ayat 144 dan 138-139, al-Tawbah (9) ayat 23, al-Mumtahanah (60) ayat 1.
(2). Menjadikan orang Yahudi dan Kristen menjadi “wali” yang berarti “pelindung” bersumber dari surat al-Mâ’idah (5) ayat 51-52:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٥١) فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ… (٥٢)
Hai orang yang beriman janganlah kamu ambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung, sebagian mereka bagi sebagian yang lain dan barang siapa di antara kamu berpaling kepada mereka ia pun termasuk golongan mereka, sungguh Allah tiada memberi bimbingan kepada kaum yang zalim, kau lihat mereka yang dalam hatinya ada penyakit (kemunafikan) cepat-cepat mendekat mereka (orang Yahudi) sambil berkata “Kami takut nasib yang malang menimpa kami.”
(3). Menjadikan musuh Allah dan Rasul-Nya dan orang kafir sebagai “wali” yang artinya “teman setia (sekutu)” serta dilarang mencintai mereka, bersumber dari surat al-Mumtahanah (60) ayat 1:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ…
Hai orang yang beriman janganlah ambil musuh-musuh-Ku dan musuh-musuhmu sebagai teman setia (sekutu) dengan memperlihatkan kasih sayang kepada mereka, padahal mereka telah ingkar akan Kebenaran yang datang kepadamu…
Menurut Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, tokoh yang terpandang di kalangan Islam Politik, dalam kitab Ghayr al-Muslimîn fi al-Mujtama’ al-Islâmî (1992: 73-75), kita perlu memahami ayat-ayat di atas sesuai dengan sebab-sebab turunnya ayat-ayat tersebut, sehingga tidak digunakan untuk membuat jarak, keterputusan hingga kebencian terhadap komunitas non-muslim.
Pertama, larangan menjadikan orang-orang non-muslim sebagai “wali” (pelindung, penolong dan sekutu) apabila mereka merasa hanya kelompok mereka saja yang paling merasa paling baik dan istimewa berdasarkan agama, keyakinan, pemikiran, dan ibadah mereka. Merasa merasa paling baik sebagai orang Yahudi, Kristen, dan Majusi, bukan sebagai tetangga, mitra dan warga negara.
Kedua, larangan mengasihi yang disebutkan dalam ayat di atas bukan berdasarkan berbeda agama, tetapi karena menyakiti dan memusuhi orang-orang Islam, Allah dan Rasul-Nya.
(a). Dalam surat al-Mujadilah (58) ayat 22 disebutkan:
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
Tiada kamu dapatkan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat akan mencintai orang yang merintangi Alllah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka ayah-ayah, atau putera-puteranya, saudara-saudaranya atau keluarganya.
Ayat ini menegaskan tidak boleh mencintai orang-orang yang merintangi, membatasi, membangkang dan melakukan permusuhan pada Allah dan Rasul-Nya.
(b). Allah melarang orang yang beriman (muslim) untuk mengasihi dan menjadikan sekutu orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, dan mengusir Nabi Muhammad Saw dari Mekkah seperti yang termaktub dalam ayat 1 surat al-Mumtahanah. Namun bagi mereka yang tidak memusuhi, larangan ini tidak berlaku, malah sebaliknya orang-orang Islam harus melakukan kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka. Perintah ini ada dalam surat yang sama al-Mumtahanah ayat 8:
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kamu berlaku baik dan adil terhadap mereka yang tiada memerangi kamu karena agama dan tiada mengusir kamu dari rumahmu, sungguh Allah mencintai orang-orang yang menegakkan keadilan.
Ketiga, Islam memperbolehkan seorang Muslim menikah dengan perempuan Ahl Kitab (al-Ma’idah ayat 5), kehidupan suami-istri akan berpijak pada ketenangan jiwa, penuh cinta, dan kasih sayang. Aturan ini menunjukkan tidak ada larangan seorang Muslim mencintai orang non-muslim.
Al-Ma’idah Ayat 51
Bagaimana dengan ayat 51 surat al-Maídah yang sering dijadikan alasan menolak pemimpin non-muslim?
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٥١) فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ… (٥٢)
Hai orang yang beriman janganlah kamu ambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung, sebagian mereka bagi sebagian yang lain dan barang siapa di antara kamu berpaling kepada mereka ia pun termasuk golongan mereka, sungguh Allah tiada memberi bimbingan kepada kaum yang zalim (51), kau lihat mereka yang dalam hatinya ada penyakit (kemunafikan) cepat-cepat mendekat mereka (orang Yahudi) sambil berkata, “Kami takut nasib yang malang menimpa kami.” (52).
Ayat 51 dari surat al-Mâ’idah kita perlu memahami sebab-sebab turunnya (asbâbun nuzul) ayat tersebut, meskipun secara sederhana kita bisa saja memaknai orang Yahudi dan Kristen yang dimaksud ayat ini adalah mereka yang eksklusif, arogan, dan egois: hanya membela kepentingan agama mereka.
Menurut Syaikh Muhammad Thahir bin Ashur dalam kitab al-Tahrîr wa al-Tanwîr (1984: 232), sebab ayat 51 surat al-Mâ’idah turun ada dua riwayat. Pertama, setelah Perang Uhud di mana umat Islam menderita kekalahan terbesar melawan orang Mekkah. Kekalahan ini berdampak buruk pada mental masyarakat Madinah, baik orang-orang Muslim dan orang-orang non-muslim yang menjadi sekutu mereka. Setelah mengetahui kekalahan tentara Muslim, penduduk Madinah ada yang mulai ciut dan kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan Nabi Muhammad.
Menurut mereka, telah ada perputaran nasib (al-dawâ’ir)—yang sebelumnya tentara Muslim menang perang, tapi pada Perang Uhud mereka kalah besar. Ancaman dan serbuan dari penduduk Mekkah terhadap penduduk Madinah mulai terbayang. Mereka menganggap Nabi Muhammad dan umat Islam tidak akan mampu menjadi pelindung dan sekutu yang kuat lagi.
Kemudian ada penduduk Madinah yang ingin membelot, meminta suaka politik atau meminta bantuan dari pihak lawan. Dari mereka ada yang berkata, “Aku akan meminta perlindungan kepada komunitas Yahudi dan memeluk agama Yahudi agar aku terlindungi dari serbuan orang Mekkah.” Ada pula yang berkata, “Aku mau minta perlindungan pada orang Kristen di Syam dan menjadi sekutu mereka.” Maka, ayat di atas mengecam orang-orang dalam konteks ini: membelot dengan meminta bantuan musuh.
Riwayat kedua dikisahkan ketika ada ketegangan antara kaum muslimin dengan salah satu komunitas Yahudi: Bani Qaynuqa’, anggota perjanjian masyarakat Madinah. Bani Qaynuqa’ dituding melanggar perjanjian dan Nabi Muhammad ingin menagih tanggung jawab dan kesetiaan mereka.
Sikap Nabi Muhammad menimbulkan perpecahan dalam koalisi masyarakat Madinah, dari pembesar suku Khazraj bernama Ubadah bin al-Shamit langsung membatalkan persekutuan dengan Bani Qaynuqa’. Namun seorang pembesar lain bernama Abdullah bin Ubay bin Salul, yang dikenal sebagai tokoh munafik, kecut nyalinya dan cenderung ingin mempertahankan kolaborasi dengan Bani Qaynuqa’.
Ia takut Nabi Muhammad dan tentaranya kalah melawan Bani Qaynuqa’. Abdullah berkilah yang nantinya disitir oleh al-Qur’an: “Aku laki-laki yang sangat takut perputaran nasib,”—maksudnya ia takut tertimpa nasib malang dengan melawan Bani Qaynuqa’. Maka, ayat ini mengecam pilihan Abdullah bin Ubay yang masih ingin mempertahankan koalisi/sekutu dengan pihak pelanggar kesepakatan yang berarti telah menjadi lawan.
Inti dari ayat ini dari dua riwayat sebab turunnya, meskipun berbeda, bisa dipahami sebagai larangan terhadap sikap pengecut, khianat dan mementingkan keselamatan sendiri, tidak setia pada kawan dan perjanjian yang sudah disepakati.
Sedangkan ayat 1 dari surat al-Mumtahanah larangan menjadikan “musuh Allah” dan “orang kafir” sebagai kawan setia dan sekutu maksudnya adalah—menurut Imam Assuyuthi dalam kitab Ad-Durrul Mantsur—orang-orang Mekkah yang waktu itu memusuhi dan memerangi Nabi Muhammad dan pengikutnya, serta mengusir mereka dari Mekkah.
Kesimpulan
Pertama, ayat-ayat yang sering dipolitisasi untuk melarang kepemimpinan non-muslim berasal dari kekeliruan terjemahan kata awliyaa—yang diterjemahkan sebagai “pemimpin” yang lebih tepat untuk konteks kalimat ayat-ayat di atas adalah sebagai: pelindung, pengasuh, penolong, teman dan sekutu. Karena kita juga tidak memaknai kalimat “wali kelas” yang berbeda dari “pemimpin alias ketua kelas”, pun “wali murid” yang maksudnya “pengasuh murid”, bukan “pemimpin murid”. Dalam al-Qur’an juga ada “Wali Allah”—awliyaa’ Allah, maksudnya tentu bukan “pemimpin Allah” tapi “orang yang sangat dekat dengan Allah”.
Kedua, ayat-ayat larangan dan kecaman memiliki konteks ketegangan, kezaliman, dan permusuhan antarkomunitas kabilah dan agama yang terjadi saat itu, yang tak bisa dioperasikan untuk konteks yang berbeda. Kita jangan meniru ISIS dan al-Qaidah yang mengoperasikan ayat-ayat konteks perang dalam kondisi yang damai. Ayat-ayat perang (qital) dalam al-Quran bertujuan membela diri (defensif), tapi ISIS dan gerombolannya menggunakannya untuk konteks yang bertentangan dengan tujuan menyerang (ofensif).
Ketiga, dalam relasi sosial dan politik, yang patut menjadi fokus dan pertimbangan utama adalah tindakan-tindakan orang, bukan pada perbedaan keyakinan. Kecaman hingga larangan yang disebutkan al-Qur’an kepada pihak yang disebut “kafir”, “musyrik”, “Ahl Kitab” lebih ke soal tindakan buruk, jahat, dan kesewenang-wenangan, bukan ke soal perbedaan keyakinan.
Dan keburukan ini pun juga bisa terjadi di kalangan Muslim. Muslim yang berbuat kezaliman tidak akan dibela oleh al-Qur’an, sedangkan non-muslim yang menerima kezaliman malah dibela (baca: Ketika Al-Qur’an Lebih Membela Non-Muslim). Maka, larangan kepemimpinan berlaku pada siapa pun yang berbuat jahat, buruk, permusuhan dan kezaliman, bukan karena berdasarkan agamanya.
Karena dalam ayat lain, al-Qur’an mengakui ada orang-orang Kristen yang juga mencintai orang-orang Muslim, “Dan sesungguhnya kamu akan menemukan yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman (Islam) ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani (Kristen)”, Surat al-Ma’idah ayat 82.
Keempat, marilah kita jadikan al-Qur’an sebagai inspirasi bagi kedamaian, kerukunan, kebhinekaan, keutuhan NKRI dan bangsa Indonesia, karena Republik Indonesia didirikan para ulama dan tokoh-tokoh bangsa lintas agama, suku dan pulau. Masa depan bangsa dan negara ini di tangan kita, keutuhannya tergantung sikap kita menghadapi perbedaan, apakah kita bisa seperti para pendahulu yang mampu melintasi perbedaan dan tidak menjadikan agama sebagai memecah-belah tapi menjadi spirit persatuan.
Al-Qur’an sangat mengagungkan ajaran persatuan, keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan, yang menjadi agenda utama kebangsaan kita. Jangan jadikan al-Qur’an seperti dalam genggaman orang-orang ISIS dan sejenisnya yang bisa memecah-belah persatuan dan mendatangkan bencana.
Kelima, dalam hidup bersama, perlu diutamakan prinsip-prinsip kewarganegaraan di mana ada pengakuan pada kesetaraan, kesamaan hak dan kewajiban serta pada nilai-nilai kemanusiaan yang menentang segala bentuk diskriminasi, perendahan dan pengucilan yang hanya didasarkan pada perbedaan agama dan etnis saja. Dalam prinsip warga negara tidak ada kelompok minoritas dan mayoritas, karena setiap orang dilihat sebagai warga negara, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Iklan